Tradisi Mekare-kare atau Perang Pandan di Desa Tenganan

1064
0
SHARE

Desa Tenganan atau lebih dikenal dengan Tenganan Pegringsingan adalah salah satu dari banyak desa kuno di Pulau Bali. Pola kehidupan masyarakat mencerminkan budaya dan adat istiadat Bali Aga (pra-Hindu) tradisi yang berbeda dari desa-desa lainnya di Bali.

Oleh sebab itu, Desa Tenganan dikembangkan menjadi salah satu objek dan atraksi wisata budaya. Tenganan Pegringsingan berada di Kecamatan Manggis karangasem, sekitar 17 km dari Amlapura ibukota kota Kabupaten Karangasem, 5 km dari resort wisata Candidasa, dan sekitar 65 km sebelah timur dari Denpasar. Daya tarik lain yang dimiliki oleh Desa Tenganan adalah Tradisi Mekare-kare atau lebih dikenal sebagai ‘perang pandan.’

Mekaré-kare adalah puncak dari serangkaian Ngusaba Sambah prosesi upacara yang diadakan pada bulan Juni yang berlangsung selama 30 hari. Selama prosesi panjang bulan, acara Mekaré-kare ini diselenggarakan selama 2-4 kali dan setiap event akan disertai dengan presentasi dari persembahan kepada leluhur. Mekaré-kare atau ‘perang pandan’ dilakukan oleh orang-orang dari anak-anak hingga orang tua.

Sesuai namanya, cara yang digunakan adalah pandan berduri daun dipotong-potong sepanjang ± 30 cm sebagai senjata dan disertai dengan perisai yang berfungsi untuk menangkis serangan dari goresan pandan duri yang dilakukan oleh lawan. Setiap luka yang disebabkan oleh goresan dari duri pandan akan diolesi dengan bahan-bahan herbal seperti lengkuas, kunyit, dan beberapa orang lain.

Mekaré-kare dasarnya memiliki makna yang sama dengan sabung ayam biasanya dilakukan oleh umat Hindu di Bali saat
melaksanakan upacara keagamaan. Acara Mekare-kare atau perang panda selalu diiringi dengan musik gamelan asli Desa Tenganan, yang dikenal sebagai Selonding.